Selasa, 24 Mei 2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Lebih dua dasa warsa terakhir ini , dunia pendidikan mendapat sumbangan pemikiran dari teori kontruktivisme sehingga banyak negara mengadakan perubahan secara mendasar terhadap sistem dan praktik pendidikan mereka bahkan kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) pun tak luput dari pengaruh teori ini. Paul Suparno dalam “Filsafat Konstuktivitas dalam pendidikan” mencoba mengurai implikasi filsafat konstruktivisme dalam pendidikan.
Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Jean Piaget adalah Psikolog pertama yang menggunkan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuanya dikenal dengan teori adaptasi kognitif, sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup , demikian juga struktur pemikiran manusia, manusia bertentangan dengan tantangan , pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secara kognitif (mental). untuk itu manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut.dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang
Dalam rangka mendidik, hal ini berarti membangun sikap jiwa dan raga seseorang dalam menjalani hidup, menghadapi berbagai macam persoalan, dan memecahkan permasalahan. Oleh karena itu diperlukan dasar yang kuat yang mampu menjadi pedoman bagi seseorang untuk dapat menentukan langkah yang akan ditempuhnya.
Dasar atau pondasi yang terbina dalam diri seseorang berasal dari agama, keluarga, dan guru yang merupakan sumber yang dipercaya mampu mengarahkan pada suatu kebaikan sebagai bekal untuk berinteraksi dengan lingkungannya.
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk mendidik seseorang, mempersiapkannya dalam hidup, dibutuhkan focus terhadap pribadi yang sedang dididik, oleh karena itu makalah yang saya sajikan mengangkat bahasan analisa mengenai aliran pendidikan Konstruktivisme.

1.2         Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut.
1.      Apa yang dimaksud dengan aliran pendidikan aliran Konstruktivisme?
2.      Apakah kelebihan dari Aliran Konstruktivisme?
3.      Apakah kelemahan dari Aliran Konstruktivisme?

1.3         Tujuan Penulisan

Adapun tujuan dari makalah ini adalah untuk :
1. Mengetahui pengertian dari pendidikan aliran Konstruktivisme.
2. Mengetahui kelebihan dari pendidikan aliran Konstruktivisme.
3. Mengetahui kelemahan dari pendidikan aliran Konstruktivisme.



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Aliran Pendidikan Konstruktivisme

Konstruktivisme adalah salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan adalah bentukan (konstruksi) kita sendiri (Von Glaserfeld). Pengetahuan bukan tiruan dari realitas, bukan juga gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Pengetahuan merupakan hasil dari konstruksi kognitif melalui kegiatan seseorang dengan membuat struktur, kategori, konsep, dan skema yang diperlukan untuk membentuk pengetahuan tersebut. Jean Piaget adalah Psikolog pertama yang menggunkan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuanya dikenal dengan teori adaptasi kognitif, sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia bertentangan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secara kognitif (mental). untuk itu manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut. dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses tersebut meliputi :
1.    Skema adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan.
2.    Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinsi.
3.    Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.
4.    Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamnya (skemanya).
Giambatista Vico mengatakan bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta dan manusia adalah tuan dari ciptaan (Paul Suparno, 1997: 24). Mengerti berarti mengetahui sesuatu jika ia mengetahui. Hanya Tuhan yang dapat mengetahui segala sesuatu karenadia pencipta segala sesuatu itu. Manusia hanya dapat mengetahui sesuatu yang dikonstruksikanTuhan.
Driver dan Bell (dalam Susan, Marilyn dan Tony, 1995: 222) mengemukakan karakteristik sebagai berikut:
1.    Siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan,
2.    Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa,
3.    Pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar melainkan dikonstruksi secara personal,
4.    Pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas,
5.    Kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
Menurut cara pandang teori konstruksivisme belajar adalah proses untuk membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Artinya siswa akan cepat memiliki pengetahuan jika pengetahuan itu dibangu atas dasar realitas yang ada di dalam masyarakat. Evaluasi pembelajaran. Dalam treori kontruktivisme, evaluasi tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui kualitas siswa dalam memahami materi dari guru. Evaluasi menjadi saran untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran.
Konstruktivisme sebagai deskripsi kognitif manusia seringkali diasosiasikan dengan pendekatan paedagogi yang mempromosikan learning by doing. Teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlakukan guna mengembangkan dirinya sendiri.
Menurut asalnya, teori konstruktivime bukanlah teori pendidikan. Teori ini berasal dari disiplin filsafat, khususnya filsafat ilmu. Pada tataran filsafat, teori ini membahas mengenai bagaimana proses terbentuknya pengetahuan manusia. Menurut teori ini pembentukan pengetahuan terjadi sebagai hasil konstruksi manusia atas realitas yang dihadapinya. Dalam perkembangan kemudian, teori ini mendapat pengaruh dari disiplin psikologi terutama psikologi kognitif Piaget yang berhubungan dengan mekanisme psikologis yang mendorong terbentuknya pengetahuan. Menurut kaum konstruktivis, belajar merupakan proses aktif siswa mengkostruksi pengetahuan.
Proses tersebut dicirikan oleh beberapa hal sebagai berikut:
1. Belajar berarti membentuk makna. Makna diciptakan siswa dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Konstruksi makna ini dipengaruhi oleh pengertian yang telah ia punyai.
2. Konstruksi makna merupakan suatu proses yang berlangsung terus-menerus seumur hidup.
3. Belajar bukan kegiatan mengumpulkan fakta melainkan lebih berorientasi pada pengembangan berpikir dan pemikiran dengan cara membentuk pengertian yang baru. Belajar bukanlah hasil dari perkembangan melainkan perkembangan itu sendiri. Suatu perkembangan yang menuntun penemuan dan pengaturan kembali pemikiran seseorang.
4. Proses belajar yang sebenarnya terjadi pada waktu skemata seseorang dalam keraguan yang merangsang pemikiran lebih lanjut. Situasi disekuilibrium merupakan situasi yang baik untuk belajar
5. Hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman belajar dengan dunia fisik dan lingkungan siswa.
6. Hasil belajar siswa tergantung pada apa yang sudah diketahuinya.
Bagi kaum konstruktivis, belajar adalah suatu proses organik untuk menemukan sesuatu, bukan suatu proses mekanis untuk mengumpulkan fakta. Dalam konteks yang demikian, belajar yang bermakna terjadi melalui refleksi, pemecahan konflik pengertian dan selalu terjadi pembaharuan terhadap pengertian yang tidak lengkap.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut dapat ditarik sebuah inferensi bahwa menurut teori konstruktivisme belajar adalah proses mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengabstraksi pengalaman sebagai hasil interaksi antara siswa dengan realitas baik realitas pribadi, alam, maupun realitas sosial. Proses konstruksi pengetahuan berlangsung secara pribadi maupun sosial. Proses ini adalah proses yang aktif dan dinamis. Beberapa faktor seperti pengalaman, pengetahuan awal, kemampuan kognitif dan lingkungan sangat berpengaruh dalam proses konstruksi makna.Argumentasi para konstruktivis memperlihatkan bahwa sebenarnya teori belajar konstrukvisme telah banyak mendapat pengaruh dari psikologi kognitif, sehingga dalam batas tertentu aliran ini dapat disebut juga neokognitif.
Walaupun mendapat pengaruh psikologi kognitif, namun harus diakui bahwa stressing point teori ini bukan terletak pada berberapa konsep psikologi kognitif yang diadopsinya (pengalaman, asimilasi, dan internalisasi).melainkan pada konstuksi pengetahuan. Konstruksi pengetahuan yang dimaksudkan dalam pandangan konstruktivisme yaitu pemaknaan realitas yang dilakukan setiap orang ketika berinteraksi dengan lingkungan. Dalam konteks demikian, konstruksi atau pemaknaan terhadap realitas adalah berlajar itu sendiri. Dengan asumsi seperti ini, sebetulnya substansi konstrukvisme terletak pada pengakuan akan hekekat manusia sebagai homo creator yang dapat mengkonstruksi realitasnya sendiri.

2.2 Kelebihan Dari Pendidikan Aliran Konstruktivisme

1.    Berfikir, dalam proses membentuk pengetahuan baru, murid berfikir untuk menyelesaikan masalah, mengeluarkan ide dan membuat keputusan.
2.    Mengerti, oleh kerana murid terlibat secara langsung dalam membentuk pengetahuan baru, mereka akan lebih faham dan boleh mengapliksikannya dalam semua situasi.
3.    Ingat, oleh kerana murid terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep.
4.    Kemahiran sosial, Kemahiran sosial diperolehi ketika berinteraksi dengan teman dan guru dalam membina pengetahuan baru.
5.    Tertarik, oleh kerana mereka terlibat secara terus, mereka faham, ingat, yakin dan berinteraksi dengan sehat, maka mereka akan merasa tertarik dalam belajar dan membentuk pengetahuan baru.

2.3 Kelemahan Dari Pendidikan Aliran Konstruktivisme

1.    Siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri, tidak jarang bahwa hasil konstruksi siswa tidak cocok dengan hasil konstruksi para ilmuan sehingga menyebabkan miskonsepsi.
2.    Konstruktivisme menanamkan agar siswa membangun pengetahuannya sendiri, hal ini pasti membutuhkan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda-beda.
3.    Situasi dan kondisi tiap sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki sarana prasarana yang dapat membantu keaktifan dan kreatifitas siswa.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Aliran pedidikan konstruktivisme adalah salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses belajar (perolehan pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif ini hanya dapat diatasi melalui pengetahuan akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalamannya dari hasil interaksi dengan lingkungannya.
Konstruktivisme sebagai deskripsi kognitif manusia seringkali diasosiasikan dengan pendekatan paedagogi yang mempromosikan learning by doing. Teori ini memberikan keaktifan terhadap manusia untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan atau teknologi, dan hal lain yang diperlakukan guna mengembangkan dirinya sendiri.

3.2 Saran 

v  Mengingat akan pentingnya aliran konstruktivisme dalam menunjang proses belajar pembelajaran maka marilah sama-sama kita jadikan sebagai sebagai acuan untuk mengimplementasikannya di setiap ranah pendidikan yang berlanjut.
v  Terkait dengan kelebihan dan kekurangan dari aliran konstruktivisme yang sudah di kemukakan maka alangkah di pandang perlu apabila seorang guru harus bertindak sebagai demonstrator dan fasilitator dalam mengelola sebuah kelas karena hal ini menyangkut keaktifan siswa dalam proses belajar pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA



Qeen corner: Teori Filsafat Pendidikan
Thomas Aquinas, Wikipedia Bahasa Indonesia
Definisi metafisika dalam ranah filsafat- aprilins_com.mht

Tidak ada komentar:

Posting Komentar